www.wikipedia.com

Loading...

Wednesday, April 18, 2012

Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu agar Kita Selalu Lancar Menulis!


Writer’s block, mandeg menulis, blank, tak tahu harus menulis apa, banyak ide tapi bingung bagaimana cara menuangkannya menjadi tulisan, dan seterusnya? Itu semua adalah penyakit paling kronis dalam menulis. Atasi dengan cara menerapkan kiat berikut ini. Insya Allah, semua masalah seperti itu akan hilang. Anda akan bisa menulis secara lancar selancar-lancarnya!
* * *
Sejak sekitar tiga tahun lalu, saya mengenal istilah “kiat menulis bebas” dari Pak Hernowo, penulis yang terkenal dengan konsep Mengikat Makna. Tapi penemu konsep menulis bebas ini adalah Peter Elbow lewat bukunya Writing Without Teacher (sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul sama dan diterbitkan oleh Indonesia Publishing atau iPublishing, tahun 2007). Tapi, “Saya menerapkan kita menulis bebas ini tidak dari Peter Elbow, melainkan dari Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog yang menulis buku Opening Up,” ujar Pak Hernowo ketika suatu hari saya mengkonfirmasikan konsep Kiat Menulis Bebas tersebut padanya.
Terlepas dari apapun, saya merasa bersyukur karena menemukan sebuah fakta yang sangat menarik, sebagaimana yang tertulis pada judul artikel ini. Bahkan saya kemudian menyebut kiat ini sebagai RAHASIA TERBESAR DI DUNIA PENULISAN. Saya pun memberi nama khusus untuknya, dengan tujuan agar mudah diingat: “Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri”.
Kiat Menulis Bebas = Kembali ke Fitrah Manusia
Saya yakin Anda semua sudah paham, bahwa otak manusia memiliki dua belahan, yakni otak kanan dan otak kiri.
  • Otak kanan = menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan.
  • Otak kiri = sistematis, runut, penuh pertimbangan.
Secara naluriah, sebenarnya setiap manusia sudah “diprogram” oleh Tuhan untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri, DALAM HAL APAPUN. Sebagai contoh:
  1. Seorang perempuan jalan-jalan di sebuah mal. Dia melihat sebuah baju bagus yang dijual dengan diskon 50%. Maka PIKIRAN SPONTAN si perempuan ini akan berkata, “Wah, harus beli nih!”
  2. Seorang pemuda secara tak sengaja melihat perempuan seksi lewat di depan matanya. Maka secara spontan dia akan berkata di dalam hati, “Wah, cantiknya! Andai dia jadi milikku.”
  3. Seseorang yang disenggol oleh orang asing secara tak sengaja, maka secara spontan emosinya akan naik dan timbul NIAT SPONTAN untuk marah atau membalas tindakan tersebut.
Hal-hal seperti contoh di atas adalah REAKSI SPONTAN manusia ketika menghadapi situasi tertentu. Dan reaksi spontan ini adalah hasil pekerjaan OTAK KANAN.
Setelah reaksi spontan itu muncul, biasanya kita tidak langsung bertindak. Misalnya pada contoh nomor 1. Setelah si perempuan secara spontan berkata “harus beli”, maka dia kemudian berpikir. “Jadi beli enggak, ya?” Pikirannya pun penuh oleh berbagai macam pertimbangan. Hingga akhirnya dia MUNGKIN tak jadi beli.
Aktivitas “penuh pertimbangan, banyak mikir” dan seterusnya ini merupakan hasil kerja dari OTAK KIRI.
Secara hukum alam, kita para manusia ini memang terbiasa mengerjakan apapun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Spontan dulu baru mikir-mikir. Ini adalah hukum alam, sangat sesuai dengan fitrah manusia.
Masalahnya: Dalam menulis kita justru melawan hukum alam. Kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia!
Kita mulai menulis dengan berbagai macam pikiran dan pertimbangan:
  • Tulisan ini nanti jadinya bagus tidak ya?
  • Bagaimana kalau hasilnya jelek?
  • Bagaimana kalau nanti tulisan ini diejek oleh orang lain?
  • Bagaimana kalau tulisan ini tidak sesuai dengan tata bahasa dan ejaan yang berlaku?
  • Kalau tulisan ini saya kirim ke Kompas, dimuat enggak ya?
  • Saya ingin membuat tulisan sebagus tulisan Andrea Hirata. Tapi bagaimana kalau tulisan saya nantinya tidak bagus, jauh dari kualitas Andrea Hirata?
  • Dan seterusnya!
Dengan kata lain, belum apa-apa kita sudah pakai otak kiri! Padahal, hukum alam justru mengajarkan kita untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri. Ini berlaku dalam hal apapun, termasuk dalam MENULIS.
Maka, ketika saya belakangan ini rajin memasyarakatkan KIAT MENULIS BEBAS kepada teman-teman penulis, itu didorong oleh keinginan saya agar para penulis kita kembali ke fitrahnya, kembali ke hukum alam dalam hal menulis.
Memang, kecenderungan kita untuk MELAWAN HUKUM ALAM ketika menulis sedikit banyaknya dipengaruhi oleh sistem pendidikan kita di sekolah. Sejak kecil, kita diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia bahwa menulis harus pakai kerangka karangan, harus mematuhi EYD, harus taat pada tata bahasa, dan seterusnya dan seterusnya. Ajaran seperti ini membuat kita berpikir bahwa menulis itu rumit, membingungkan, dan sulit untuk dipraktekkan.
Padahal sebenarnya, menulis itu sangat gampang! (seperti kata Arswendo Atmowiloto pada bukunya “Mengarang Itu Gampang!”). Bagaimana caranya agar gampang? Ya tentu saja dengan KEMBALI KE HUKUM ALAM. Kikislah habis“aliran sesat” yang diajarkan oleh guru kita di sekolah dulu. Mulai sekarang, menulislah dengan otak kanan dulu baru otak kiri.
Bagaimanakah Cara Menulis Bebas Tersebut?
Caranya sangat gampang. Ya, DEMI TUHAN INI SANGAT GAMPANG!
Tahap ke-1: Otak Kanan:Mulailah menulis secara spontan. Apapun yang muncul di pikiran Anda, langsung ditulis saja. Bahkan ketika Anda bingung harus menulis apa, coba tulis saja:
“Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..”
Apa susahnya menulis seperti itu?
Tentu saja Anda tidak harus menulis persis seperti kalimat-kalimat yang saya tulis. Itu hanya contoh untuk menjelaskan bahwa menulis bebas itu SANGAT MUDAH. Oke?

Ketika menulis bebas tersebut, HILANGKAN SEMUA BEBAN PIKIRAN ANDA.
Ya, SEMUANYA. Jadi apapun itu yang menghantui Anda ketika menulis, yang membuat tangan Anda berhenti menulis, yang membuat Anda bengong dan kembali blank atau bingung harus menulis apa lagi, LUPAKAN ITU SEMUA. BUANG JAUH-JAUH.
Yang tak kalah penting: Jangan diedit atau direvisi sebelum selesai.
Walau tulisan Anda kacau balau, kalimatnya ngelantur ke sana ke mari, banyak salah ketik, atau Anda merasa tulisan tersebut sangat jelek, membosankan dan tak ada bagus-bagusnya, bahkan bila banyak kalimat yang berisi kata-kata vulgar, berbau SARA, membuka aib, dan seterusnya, BIARKAN SAJA. Jangan diedit atau direvisi dulu. Lanjutkan saja proses menulis Anda hingga semua ide tertuang dalam bentuk tulisan.
Kenapa tidak boleh diedit? Sebab begitu Anda mulai mengedit, maka itu akan menjadi sumber kemandegan yang baru. Percayalah!
Tahap ke-2: Otak Kiri:Setelah tahap ke-1 selesai, diamkan dulu naskah Anda sekitar satu atau dua hari. Atau kalau buru-buru, satu atau dua jam cukup deh. Lalu baca lagi tulisan tersebut. Kini, mulailah MEREVISI dengan otak kiri. Buatlah tulisan tersebut menjadi lebih bagus. Bila ada salah ketik, saatnya diperbaiki. Bila topiknya melebar ke mana-mana, saatnya difokuskan ke tujuan semula. Bila Anda merasa tulisannya kurang menarik, kini saatnya dibuat lebih menarik. Dan seterusnya dan seterusnya.
“Bagaimana cara merevisi? Apa saja yang harus saya edit?”
Oke, pertanyaan bagus!
Hal utama yang harus Anda sadari, “Saya ini penulis, bukan editor.”
Karena itu, Anda tidak harus bekerja seperti para editor di penerbitan buku, atau redaktur di media cetak. Tidak harus!
Kalau Anda mau belajar editing secara lebih mendalam, ya itu bagus. Saya juga sangat setuju dan akan mendukung Anda sepenuhnya! Tapi tanpa berbuat seperti itu pun, Anda sebagai PENULIS bisa mengedit atau merevisi tulisan Anda secara layak plus memadai.

Caranya:
Edit atau revisi saja tulisan tersebut semampu Anda. Tidak ada patokan bagian mana yang harus direvisi atau bagaimana cara mengeditnya dan seterusnya. Pokoknya edit dan revisi saja semampu Anda. Yang penting Anda merasa bahwa hasil editing atau revisi tersebut membuat tulisan Anda lebih bagus dari sebelumnya. Itu saja. Titik.
Hasil Otak Kanan = Draft (atau Ruang Privat)
Selama ini, hampir semua peserta pelatihan mengaku puas setelah mempraktekkan kiat menulis bebas yang saya ajarkan. Bahkan banyak di antara mereka yang mengaku sudah bertahun-tahun tak bisa menulis, kini bisa menulis dua – bahkan lebih – halaman secara lancar tanpa hambatan sama sekali.
Bahkan, banyak peserta yang awalnya bingung harus menulis apa, tapi – setelah mempraktekkan kiat menulis bebas – justru protes ketika saya berkata “waktu sudah habis, silahkan tulisannya dikumpulkan”. Mereka berkata bahwa tulisan mereka belum jadi, masih banyak ide yang belum sempat dituliskan.
Alhamdulillah, ini menjadi bukti bahwa kiat menulis bebas memang benar-benar jitu!
Tapi tentu saja, ada juga peserta pelatihan yang protes, masih bingung, bahkan marah dan mengkritik saya. Sebagai contoh, TIGA ORANG peserta Pelatihan Penulisan di Cipanas  Bogor tanggal 11 Juni 2009 lalu (yang diadakan oleh Serikat Penerbit Suratkabar Pusat) berkata dengan penuh emosi:
“Pak Jonru. Kami ini staf Public Relation dari berbagai perusahaan dan instansi di Indonesia. Kami datang ke sini untuk mengetahui kiat apa yang paling jitu agar kami bisa membuat tulisan yang membangun citra positif bagi perusahaan kami. Kalau kami menerapkan kiat menulis bebas seperti yang Pak Jonru ajarkan, bukankah itu justru berbahaya? Kami menulis sebebas-bebasnya, tidak peduli apakah di dalam tulisan tersebut ada rahasia yang tidak seharusnya diketahui oleh publik, bahkan dengan tulisan bebas itu citra perusahaan kami jadi hancur berantakan. Bagaimana dong?!”
Terus terang, ini adalah pengalaman paling seru yang saya alami dalam mengajarkan kiat menulis bebas. Terlebih ketika dua hari kemudian saya mengisi pelatihan di Unibraw Malang dengan membawakan tema yang sama, salah seorang peserta – mahasiswa – pun mengajukan protes yang sama. Dia berkata:
“Saya sering disuruh dosen untuk menulis dengan kriteria dan aturan tertentu. Kalau saya menerapkan kiat menulis bebas, bagaimana dong? Saya tentu tidak bisa membuat tulisan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh dosen!”
Saya kira, protes seperti ini dapat dimaklumi, karena para peserta tersebut masih salah persepsi – atau lebih tepatnya belum mengerti – tentang konsep KIAT MENULIS BEBAS.
Kiat menulis bebas adalah OTAK KANAN DULU BARU OTAK KIRI.
Dengan kata lain (seperti yang Anda bisa lihat juga pada penjelasan di atas),kiat menulis bebas dilakukan dalam DUA TAHAP.
Tahap pertama adalah TAHAP OTAK KANAN.Pada tahap otak kanan ini, tulisan yang dihasilkan adalah DRAFT. Atau meminjam istilah Hernowo, tulisan hasil otak kanan adalah untuk konsumsi ruang privat. Atau bahasa gamblangnya, “Ini adalah tulisan untuk diri Anda sendiri. Bila misalnya Anda hendak mengirim tulisan ke Kompas, bukan draft atau hasil otak kanan tersebut yang Anda kirim.”
Tahap kedua adalah TAHAP OTAK KIRI.Pada tahap inilah, Anda merevisi atau mengedit draft tersebut. Setelah jadi, setelah tulisannya menjadi bagus dan sesuai harapan Anda, barulah tulisan tersebut diarahkan ke tujuan semula. Bila sejak awal tulisan itu hendak Anda kirim ke Kompas, maka kini saatnya Anda mewujudkan rencana tersebut.
Meminjam istilah Pak Hernowo, hasil tulisan dengan otak kiri adalah untuk ruang publik. Maksudnya, ini adalah hasil tulisan yang akan Anda PUBLIKASIKAN.

Sekadar Info:
Tulisan-tulisan yang Anda baca di koran, majalah, tabloid, buku, bulletin, jurnal, dan seterusnya, semua itu BUKANLAH tulisan yang sekali tulis langsung jadi. Semua tulisan itu pastilah hasil dari draft 1, lalu direvisi menjadi draft 2, draft 3, draft 4, dan seterusnya. Ketika ada tulisan yang dimuat di sebuah koran, bisa saja itu adalah tulisan yang telah melewati sepuluh atau dua puluh editing atau revisi.
Karena itu, bila Anda hendak membuat tulisan yang SEKALI TULIS LANGSUNG SEBAGUS TULISAN YANG DIMUAT DI KORAN ATAU MAJALAH, maka ini adalah pemikiran yang keliru.
Jadi, sebenarnya tidak masalah bila di TAHAP AWAL tulisan Anda masih jelek, masih berantakan, masih kacau balau. Sebab setelah draft awal selesai, Insya Allah Anda masih punya kesempatan untuk merevisinya agar menjadi bagus dan sesuai harapan Anda.
Kiat Menulis Bebas = Cocok untuk Jenis Tulisan APAPUN
Ya, tulisan jenis apapun yang Anda tulis, semuanya cocok untuk ditulis dengan kiat menulis bebas. Cerpen, artikel, opini, memoar, karangan ilmiah, skripsi, esai, resensi, puisi, novel, skenario sinetron, berita, dan seterusnya. Pokoknya tulisan apapun itu, SEMUA COCOK!
Jadi jangan berpikir bahwa kiat menulis bebas hanya cocok untuk tulisan tertentu. SEMUA COCOK deh pokoknya! Kalau tidak percaya, coba simak subjudul berikut ini.
Kiat Menulis Bebas = Kiat SEJUTA UMAT dalam Menulis
Di atas saya sudah menyebutkan:
“….apapun itu yang bisa menghantui Anda ketika menulis, yang membuat tangan Anda berhenti menulis, yang membuat Anda bengong dan kembali blank atau bingung harus menulis apa lagi, LUPAKAN ITU SEMUA. BUANG JAUH-JAUH.”
Ya, APAPUN itu.
Tapi walau saya sudah menulis APAPUN dengan HURUF KAPITAL untuk menegaskannya, ternyata masih banyak juga teman yang belum memahaminya.  Buktinya, mereka masih juga bertanya-tanya, mengajukan kasus yang mereka hadapi. Mereka mengaku masih tetap mandeg, bingung harus menulis apa, dan seterusnya.
Sebenarnya, bila Anda sudah sangat memahami makna dari kata APAPUN, percayalah bahwa masalah mandeg atau bingung atau blank dalam menulis tak akan pernah lagi Anda hadapi. Sebab seperti yang sudah diulang di atas, masalah APAPUN yang membuat Anda mandeg dalam menulis, maka kiat paling jitu untuk mengatasinya adalah KIAT MENULIS BEBAS.
Itulah sebabnya kenapa saya menyebut kiat ini sebagai KIAT SEJUTA UMAT DALAM MENULIS.
Untuk lebih jelasnya, saya akan sebutkan beberapa contoh saja (ingat, INI HANYA BEBERAPA CONTOH, sebagai gambaran belaka. Saya yakin, setelah membaca contoh-contoh ini, Anda akan bisa menerapkannya untuk hal-hal lain yang juga membuat Anda mandeg dalam menulis, atau setidaknya memperlambat proses penulisan Anda).

Contoh 1: Kerangka Karangan:
Anda menulis dengan didahului oleh pembuatan kerangka karangan atau outline, atau apalah itu namanya. Maka tulislah naskah Anda dengan cara seperti yang saya jelaskan di sini:
(1) Dengan asumsi bahwa Anda memang butuh kerangka karangan, awali proses penulisan Anda dengan membuat kerangka karangan. Bagaimana format dan caranya? Di atas sudah dijelaskan. Oke?
(2) Setelah itu, mulailah menulis. Menulislah secara bebas, spontan, sesuka Anda. Hilangkan semua beban dari pikiran Anda. Lupakan dulu semua teori, kiat menulis, dan seterusnya. Pokoknya menulislah sesuka-suka Anda.
….
Termasuk kerangka karangan yang telah Anda buat tadi, silahkan lupakan dulu. Jangan diingat-ingat. Jangan sampai Anda dibayang-bayangi oleh makhluk yang bernama kerangka karangan tersebut. LUPAKAN DIA UNTUK SEMENTARA. Oke?
(3) Setelah semua ide berhasil dituangkan ke dalam tulisan, barulah kerangka karangan tadi dilirik lagi. Silahkan sekarang Anda mencocokkannya dengan tulisan yang telah dibuat.
Cara mencocokkannya lebih kurang sama seperti ibu-ibu yang mencocokkan check list daftar belanjaan dengan barang-barang yang telah dia beli di mall. Ingat contoh tentang ibu-ibu di atas. Begitulah caranya.

Contoh 2: Jumlah Halaman:
Katakanlah Anda hendak mengirim naskah cerpen ke Koran A. Lalu oleh Koran A, dibuat aturan bahwa naskah opini hendaknya sepanjang 6 sampai 8 halaman kuarto, ketik 1,5 spasi, dan seterusnya.
Maka ketika menulis, awalilah dengan spontan atau menulis bebas. Lupakan dulu aturan dari Koran A tersebut. Tuliskah sepanjang-panjangnya, tidak peduli berapa halaman pun itu. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Sekaranglah saatnya Anda mengingat lagi aturan dari Koran A tersebut. Revisilah naskah Anda sehingga dia menjadi sekitar 6 atau 8 halaman kuarto, ketik 1,5 spasi.

Contoh 3: Kualitas Tulisan
Anda ingin membuat tulisan yang benar-benar bagus, menarik, dan menggugah perasaan para pembaca. Anda tidak ingin membuat tulisan yang standar bahkan jelek. Maka ketika menulis, Anda dihantui oleh keinginan seperti ini. Anda selalu berpikir, “Hasilnya nanti bagus enggak, ya?”
Karena dihantui seperti itu, Anda jadi mandeg. Maka kembalilah ke kiat menulis bebas. Mulailah menulis secara spontan. Lupakan saja dulu keinginan Anda tersebut. Walau Anda merasa hasil menulis spontan itu sangat jelek, tak ada bagus-bagusnya dan seterusnya, biarkan saja. Terus saja menulis. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Saatnya Anda merevisi tulisan tersebut sehingga menjadi lebih bagus, menarik dan menggugah para pembaca.

Contoh 4: Kaidah-kadiah pada tulisan ilmiah
Tulisan ilmiah penuh oleh kaidah-kaidah yang membatasi kita dalam menulis. Bila kita langsung memikirkan dan memperhatikan kaidah-kaidah tersebut ketika menulis, maka dapat dipastikan bahwa masalah mandeg akan muncul. Karena itu, coba terapkan kiat menulis bebas. Menulislan secara spontan, lupakan dulu kaidah-kaidah tersebut. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Saatnya Anda merevisi tulisan dengan cara menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku pada penulisan karya ilmiah.

Contoh 5: Referensi Data
Pada jenis tulisan tertentu (misalnya esai atau karangan ilmiah), referensi data pendukung sangat penting. Nah, banyak penulis yang mandeg karena mereka mencari data sambil menulis. Ini cara yang salah! Saran saya, terapkan saja kiat menulis bebas. Mulailah menulis secara spontan. Lupakan dulu semua data pendukung yang Anda butuhkan. Katakanlah Anda hendak menulis data tertentu tapi lupa-lupa ingat (seperti judul lagu Kuburan). Maka tulis saja seperti contoh berikut:
“Berdasarkan data penelitian lembaga …. tahun ….., jumlah penduduk miskin di Jakarta pada tahun 2006 adalah sebanyak …. orang. Bahkan Bapak …., seorang pakar Ekonomi moneter berpendapat bahwa…… (dikutip dari Majalah Tempo edisi …….).”
Tidak masalah bila masih titik-titik seperti itu. Toh itu baru draft. Setalah tahap otak kanan selesai, atau setelah semua ide tertuang di dalam tulisan, maka selanjutnya Anda masuk ke tahap otak kiri. Pada saat itulah Anda bebas mencari data, melengkapi titik-titik tersebut dengan data yang relevan.

Contoh 6: Dikejar Deadline
Anda mungkin diperintahkan oleh Bos untuk membuat tulisan dan harus jadi dalam waktu satu jam dari sekarang. Maka, Anda pun menulis sambil dihantui oleh deadline. Anda selalu khawatir, “sudah satu jam belum ya?”
Saran saya, cobalah menulis secara spontan saja. Lupakan saja deadline dari bos tersebut. Kosongkan pikiran Anda dari rasa khawatir. Menulislah seolah-olah deadline tidak ada. Tapi tentu saja, Anda harus berpikir bahwa tulisan ini harus selesai SESEGERA MUNGKIN. Dengan cara ini, insya Allah Anda akan bisa lebih lancar dalam menulis. Dan kemungkinan besar Anda bisa menyelesaikan tulisan tersebut sebelum deadline tiba.

Contoh 7: Beban Psikologis
Ketika baru mulai menulis, Anda langsung berpikir, “Nanti tulisannya bagus enggak, ya? Bagaimana kalau diejek orang? Bagaimana kalau ditolak oleh majalah? Bagaimana kalau setelah saya muat di blog, tak ada orang yang mengomentari tulisan ini? Bagaimana kalau… bla… bla… bla….”
Bila pikiran-pikiran seperti itu menghantui Anda, sadarilah itu hanya PERASAAN ANDA. Anda membayangkan hal-hal yang sebenarnya BELUM TERJADI. Tentu sangat konyol bila kita terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi, padahal itu BELUM TENTU terjadi!
Maka saran saya, langsung saja menulis, lupakan semua beban psikologis yang menghantui pikiran Anda tersebut. Menulislah secara spontan. Gunakan dulu otak kanan Anda. Setelah selesai dalam bentuk draft, saatnya Anda boleh memikirkan lagi semua beban psikologis tersebut. Bila misalnya Anda khawatir tulisan tersebut akan diejek orang, maka revisilah naskah itu sebagus mungkin. Kalau sudah bagus, tentu KEMUNGKINAN untuk diejek oleh orang lain menjadi lebih kecil.

Contoh 8: Tata Bahasa, EYD, Kiat & Teori Penulisan
Banyak mahasiswa dan lulusan Fakultas Sastra yang tidak berani menulis, karena mereka dihantui oleh teori-teori yang mereka dapatkan di bangku kuliah. “Nanti kalau tulisan saya tidak sesuai teori ANU, gimana dong?”
Walau bukan dari Fakultas Sastra, saya yakin Anda pun mungkin pernah berpikir seperti itu. Ketika menulis, pikiran Anda penuh oleh teori penulisan, kiat penulisan, tata bahasa, dan seterusnya. Dan ini tentu membuat Anda mandeg menulis.
Saran saya, LUPAKAN DULU SEMUA ITU! Mulailah menulis dengan spontan, semau-mau Anda. Gunakan dulu otak kanan Anda. Semua teori dan kiat serta aturan penulisan itu, SILAHKAN LUPAKAN DULU.
Setelah selesai dalam bentuk draft, baru deh semua teori, kiat dan aturan tersebut diingat-ingat lagi. Sekarang saatnya pakai otak kiri. Revisilah tulisan Anda agar sesuai dengan teori, aturan dan kiat yang sudah Anda pelajari tersebut.

Satu hal yang perlu Anda ketahui:
Teori, kiat dan aturan dalam menulis bisa dipelajari sambil jalan. Anda tidak harus menguasai semuanya sebelum mulai menulis. Justru dari praktek menulislah, Anda akan menjadi makin mahir, makin ahli, dan makin mudah dalam memahami teori, kiat dan aturan penulisan yang ada.
“Anda tidak harus menjadi ahli untuk memulai, tapi Anda harus memulai untuk menjadi Ahli,” demikian bunyi sebuah kata bijak :)
* * *
Oke, delapan contoh sudah cukup ya?
Saya yakin Anda bisa mencari contoh-contoh lain. Intinya: APAPUN masalah yang menyebabkan Anda mandeg dalam menulis, maka atasi dengan kiat menulis bebas.
Dan inilah sebabnya kenapa pada subjudul sebelumnya saya mengatakan bahwa kiat menulis bebas cocok untuk jenis tulisan apapun!
Kiat Menulis Bebas = Alat Bantu Belaka
Bila Anda baru belajar menulis, dan menerapkan kiat menulis bebas pun terasa masih sangat sulit, maka Anda bisa dianalogikan seperti seorang anak SD atau TK yang baru belajar membaca.
Pada kondisi seperti ini, “kiat menulis bebas” bisa disebut sebagai ALAT BANTU yang ditujukan bagi Anda yang masih sangat pemula dalam menulis. Dengan alat bantu ini maka orang yang paling pemula pun diharapkan bisa menulis secara lancar selancar-lancarnya, tanpa mandeg atau mentok sama sekali.
Tapi Anda juga tentu paham bahwa keahlian apapun akan bisa diasah melalui PRAKTEK. Semakin sering menulis, maka Insya Allah keterampilan Anda dalam menulis pun makin terasah. Sama seperti seseorang yang belajar menyetir mobil. Awalnya terasa sulit, sering nabrak, dan seterusnya. Tapi semakin sering menyetir, dia makin mahir mengenderai mobil.
Maka, keahlian menulis yang Anda miliki akan makin terasah, Anda akan makin terampil atau mahir menulis, bila Anda semakin sering praktek menulis.
Dan bila Anda sudah sampai pada tahap MAHIR atau AHLI, mungkin KIAT MENULIS BEBAS tidak terlalu relevan lagi bagi Anda. Anda mungkin bisa menulis dengan lancar walau sambil sesekali mengedit tulisan yang baru saja Anda ketik, misalnya. Terus terang, saya pun sering seperti itu :)
Tapi selama “pelanggaran” yang Anda lakukan terhadap kiat menulis bebas ini tidak membuat Anda mandeg menulis, atau justru membuat Anda makin lancar menulis, maka silahkan lanjutkan “pelanggaran” tersebut.
Kenapa? Sebab kita tibak boleh memperlakukan kiat menulis bebas ini sebagai sebuah kitab suci yang tak terbantahkan. DIA HANYALAH ALAT BANTU. Sebagai alat bantu, kita hanya membutuhkannya bila dia memang benar-benar bisa membantu pekerjaan kita. Bila dia justru mempersulit pekerjaan kita, lantas buat apa dipakai?
Dan dalam menerapkannya pun, fleksibel sajalah. Jangan terlalu kaku. Seperti yang saya jelaskan di atas: Tidak mematuhi kiat ini secara seratus persen bukanlah masalah. Yang penting Anda tetap dapat lancar dan nyaman dalam menulis.
Kiat Menulis Bebas = Untuk Dipraktekkan, Bukan untuk Dibaca atau Dihafal Belaka
Banyak teman penulis yang mengaku sudah paham tentang kiat menulis bebas yang saya ajarkan. Tapi begitu mulai menulis, mereka masih mandeg, masih dihinggapi penyakit writer’s block, masih bingung harus menulis apa.
Saya katakan pada mereka, “Bila Anda memang sudah benar-benar memahami apa itu kiat menulis bebas, saya yakin Anda tidak akan bingung lagi, tak akan mandeg lagi. Saya yakin Anda pasti bisa menulis dengan sangat lancar.”
Mereka manggut-manggut, tapi tetap mengeluh dan berkata bahwa mereka masing bingung, masih belum tahu harus menulis apa, dan seterusnya.
Saya hanya tersenyum geli. Untuk menghadapi orang seperti ini, kiat paling jitu adalah LANGSUNG MENYURUH MEREKA MENULIS.
“Silahkan langsung dipraktekkan. Kiat menulis bebas itu bukan untuk sekadar dibaca atau dihafal.. Sebab Anda baru bisa merasakan dampak dan kedahsyatannya bila kamu mencobanya langsung. Oke?”
Setelah saya “paksa” (karena awalnya mereka terlihat ogah-ogahan), barulah si penulis bingung tersebut mulai menulis. Awalnya mereka berkata masih tetap bingung. Tak tahu harus menulis apa. “Pikiran saya blank,” ujarnya.
“Kalau pikiran Anda blank, cobalah menulis tentang blank. Tulis saja ‘saya lagi blank, tak tahu harus menulis apa, bingung harus ngapain. sudah disuruh menulis oleh Jonru tapi saya kok tetap blank juga ya?????’ Saya tidak percaya kalau Anda katakan tidak bisa. Yang penting, YAKINKAN DIRI, ‘Saya Bisa Menulis!’ Dengan keyakinan seperti itu, Insya Allah Anda akan bisa menulis dengan lancar. Oke?”
Alhamdulillah, teman penulis tersebut akhirnya berhasil menulis. Hanya satu paragraf. Tapi dengan satu paragraf itu dia akhirnya percaya dan bisa merasakan sendiri, bahwa kiat menulis bebas itu memang sangat jitu!
Jadi bagi Anda yang masih bingung juga setelah membaca tulisan ini, AYO LANSGUNG DIPRAKTEKKAN SAJA. Silahkan LANGSUNG MENULIS!
Oke?
Selamat Menulis dan Salam Sukses!
Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat







https://www.facebook.com/groups/mahameru54/

Wednesday, February 1, 2012

Kampung Fiksi: Tema Cinta di Bulan Februari

Kampung Fiksi: Tema Cinta di Bulan Februari: TIUP TEROMPEEEET!!! J50K IS OVER, BUT WE'RE NOT DONE YET! WE NEVER WILL BE! KEEP WRITING! ^_^ Ter...

Sunday, December 11, 2011

DEMO SOLO!!!






Surat Terbuka Untuk Presiden Republik Indonesia:
Bpk. H. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono

Saya menulis dan memposting surat ini sebagai tanda mata, cinta dan hormat kepada anda yang telah berpeluh keringat darah, waktu, harta selama kurang lebih 6 tahun memimpin bangsa Indonesia yang begitu kita cintai ini. Namun kiranya saya sebagai rakyat biasa hanya bisa berharap dan sedikit protes terhadap kebijakan-kebijakan jenengan yang terlalu kalem pada segerombolan serigala buas anak bangsa sendiri (baca: koruptor dan turunannnya), dan sangat terlalu sensitif jika didemo ataupun diingatkan rakyatnya. Sungguh, rakyat Indonesia dari kaca mata awam saya, insyaalloh males, enggan, dan bukan karakternya sebagai bangsa pengkudeta. Lewat lirik dan lagu yang dinyanyikan oleh Koil feat The Rock Indonesia Ahmad Dhani (T.R. I. A. D), saya mencoba berdemo solo.

KENYATAAN DALAM DUNIA FANTASI

Nasionalisme..
Di negara ini kita hidup dan bekerja
Di negara ini kita makan dan berbahagia
Di tanah yang indah ini bersemilah cintamu yang abadi
Di negara busuk ini kita tersenyum pedih

Kita membicarakan kenyataan
Dalam dunia yang tak kumengerti
Kita membicarakan kepasrahan
Dalam spektrum yang hitam dan putih
Kita merasa benar-benar pintar
Memasyarakatkan kebodohan ini
Kita membicarakan kenyataaan dalam dunia fantasi

Dalam dunia fantasi...
Aku tak butuh pengertianmu...
Aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis
Kau bingkiskan untuk anak dan cucumu
Aku tak butuh penjelasanmu...
Aku bukan bagian dari kebanggaan
Yang membuat kita tak berpenghasilan

Nasionalisme adalah tempat tinggal yang kita bela
Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan
Nasionalisme untuk negara ini menuju kehancuran
Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran

N a s i o n a l i s m e…
N a s i o n a l i s m e…
N a s i o n a l i s m e…

Untuk negara ini adalah pertanyaan

N a s i o n a l i s m e…
N a s i o n a l i s m e…
N a s i o n a l i s m e…

Menuntun bangsa kami menuju kehancuran



Terimaksih telah memberi waktu saya utuk berceloteh, bukan didepan istana merdeka, tidak menggunakan pengeras suara, tanpa pentungan, tiada gas air mata, ataupun 2 SSK Brimob yang masih muda-muda. Andaikata zaman ORBA, bisa saja saya dan penyanyi serta pencipta lagu tersebut diatas dibui tanpa status dan tempat yang jelas layaknya Mas Iwan Fals dan sebagainya.
Kami mengerti, tugas anda tidak mudah, anda dikelilingi manusia-manusia bertopeng, mana kawan mana lawan begitu mudah terbalik-balik. Sungguh, semoga anda diberi kesehatan, kekuatan, keberkahan selamanya dan doa dari seluruh manusia dan bukan manusia, senyampang niat anda ikhlas karena Alloh SWT semata.

Malang Raya, 11 Desember 2009

Junaidi Abdillah


Sunday, October 23, 2011

Pesantren Budaya Nusantara: Sastra Pesantren Dalam PergulatanOleh: Agus Sunyo...

Pesantren Budaya Nusantara: Sastra Pesantren Dalam Pergulatan
Oleh: Agus Sunyo...
: Sastra Pesantren Dalam Pergulatan Oleh: Agus Sunyoto KH Abdurrahman Wahid (1973) memberikan abstraksi tentang sastera pesantren dalam dua ...

Pesantren Budaya Nusantara: Lima Humor Gus Dur

Pesantren Budaya Nusantara: Lima Humor Gus Dur: Oleh: K Ng H Agus Sunyoto Ucapan dan cerita humor yang dilontarkan Gus Dur selalu membuat or...

Tuesday, October 11, 2011

Terkubur Waktu

Oleh Uum Rojana

Matahari terik sekali, dengan jalan agak dipercepat saya menuju masjid, lantai 2 yang saya tuju. Sengaja saya menuju lantai 2 yang sepi, karena bukan untuk shalat, Dzuhur sudah berlalu satu jam yang lalu. Saya kesini untuk bolos kuliah, sedang penat badan dan fikiran.
Saya rebahkan diri diatas karpet, berbantal 2 lengan yang saya tekuk diatas kepala, mata menuju langit-langit masjid yang putih polos, pikiran melayang, tiba-tiba teringat sahabat lama. Lia...
2 hari yang lalu ada SMS masuk di HP saya,
“Um, apa kabar?” dari Lia, setelah cukup lama tak berkirim kabar.
“Hei. Alhmadulillah baik. Kamu?” balas saya.
“Alhamdulillah baik juga. Um, aku mau kasih kabar gembira.” dari dia lagi.
“Ih sok dramatis. Tinggal bilang aja. Apa tu?!” sejujurnya saya penasaran juga,
“Aku udah nikah.” Tak berapa lama SMS-nya masuk lagi. Singkat.

Hening

“Serius?!” Kapan?! Koq gak bilang-bilang?!” tiba-tiba saya gugup entah kenapa, salah tingkah, padahal tak ada yang melihat saya dan sayapun tak melihat apa-apa.
“Iya beneran. Masih baru akadnya aja sih. Kamu bisa dateng resepsinya nanti?” saya masih syock. Agak lama nggak saya bales.
“Mmm... kamu tau kan sekarang aku di Malang. Susah juga.” Filiran dia yang lama nggak bales.
“Hmmm.... iya seh. Yaudah yang penting doanya aja.” Jawabnya kemudian
“Itu pasti! Semoga langgeng, jadi keluarga bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah.” Saya termenung agak lama. Kebetulan yang foto copy lagi sepi saat itu.
Hingga saat ini ada perasaan yang mengganggu di dada saya, satu perasaan seperti tak bisa menerima, kehilangan.... padahal saya tau kami tak pernah ada ikatan lebih selain sahabat dekat, seperti Nnan.

Menikah? Punya suami? Hal ini seperti sebuah akhir bagi kami.

Sepertinya baru kemarin saya SMS dia, sesekali telfon juga. Menceritakan teman-teman yang sudah pada nikah.
“kapan giliran kamu?” canda saya, diapun bertanya sebaliknya. Dan jawaban kamipun sama saat itu,
Kami, sama-sama belum punya calon.
Berapa lama selang antara saat itu dan saat ini?
Sepertinya baru kemarin saya bertemu dengannya di kelas 1 SMA, sepertinya baru kemarin saya bermusuhan dengan dia, saling ejek dan sok jaim padahal kami sama-sama menyayangi . Sepertinya baru kemarin kami berdamai, kemudian tersenyum bersama, tertawa, bercanda, baru kemaren saya berpisah dengannya.
Dan kini....
Waktu begitu cepat berlalu. Saat saya belum benar-benar mengerti, semua sudah berubah!
                                                                    
Malang, 26 Okt. 2007

Syair Sufistik KH. Abdurrahman Wahid



Yarosulalloh salammun’alaik…

Yaarofi’asaaniwaddaaroji…



‘atfatayaji rotall ‘aalami…

Yauhailaljuu diwaalkaromi…



Ngawiti ingsun nglarasa syi’iran

Kelawan muji maring pengeran

Kang paring rohmat lan kenikmatan

Rino wengine tanpo petungan


(Kumulai menguntai syairan

Dengan memuji pada Tuhan

Yang merahmati dan memberi nikmat

Siang malam tanpa hitungan )

Duh bolo konco priyo wanito

Ojo mung ngaji syare’at bloko

Gur pinter ndongeng nulis lan moco

Tembe mburine bakal sangsoro

(Duhai kawan laki-perempuan

Jangan hanya mengaji syariat belaka

Hanya pandai berdongeng, tulis dan baca

Kelak di belakang bakal sengsara.) 


Akeh kang apal Qur’an haditse

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe dak digatekke

Yen isih kotor ati akale 

Akeh kang apal Qur’an haditse

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe dak digatekke

Yen isih kotor ati akale 


(Banyak yang hafal Al-Qur’an dan haditsnya

Malah suka mengafirkan yang lainnya

Kafirnya sendiri tidak dipedulikan

Jika masih kotor hati dan akalnya)


Gampang kabujuk nafsu angkoro

Ing pepaese gebyare ndunyo

Iri lan meri sugihe tonggo

Mulo atine peteng lan nistho


(Mudah ketipu nafsu angkara

Pada rias gebyar dunia

Iri dan dengki harta tetangga

Karena hatinya gelap dan nista) 


Ayo sedulur jo nglaleake

Wajibe ngaji sak pranatane

Nggo ngandelake iman tauhite

Baguse sangu mulyo matine 


(Mari saudara, jangan lupakan

Kewajiban dengan semua aturannya

Demi menebalkan iman tauhidnya

Bajiknya bekal, hati nan mulia)


Kang aran soleh bagus atine

Kerono mapan seri ngelmune

Laku thoriqot lan ma’rifate

Ugo hakekot manjing rasane


(Disebut soleh karena bagus hatinya

Karena selaras dengan ilmunya 

Menempuh thariqah dan ma’rifatnya

Juga hakikat merasuk jiwanya) 


Alquran qodim wahyu minulyo

Tanpo ditulis biso diwoco

Iku wejangan guru waskito

Den tancepake ing jero dodo


Al-Qur’an Qodim wahyu mulia

Tanpa ditulis bisa dibaca

Itulah nasehat dari guru waskita

Tancapkan di dalam dada


Kumantil ati lan pikiran

Mrasuk ing badan kabeh jeroan

Mu’jizat rosul dadi pedoman

Minongko dalan manjing iman


Merasuk hati dan pikiran

Merasuk badan hingga ke dalam

Mu’jizat Rosul jadi pedoman

Sebagai jalan masuknya iman



Kelawan Alloh kang moho suci

Kudu rangkulan rino lan wengi

Ditirakati diriyadohi

Dzikir lan suluk jo nganti lali

Bersama Allah Yang Maha Suci

Harus pelukan siang dan malam

Dilakukan dengan tirakat riyadhoh

Dzikir dan suluk janganlah lupa 

Uripe ayem rumongso aman

Dununge roso tondo yen iman

Sabar narimo najan pas pasan

Kabeh tinakdir saking pengeran


Hidupnya damai merasa aman

Sampai dirasa tandanya iman

Sabar dan menerima walau sederhana

Semua hanya takdir dari Pangeran


Kang anglakoni sakabehane

Allah kang ngangkat drajate

Senajan ashor toto dhohire

Ananging mulyo maqom drajate


Yang bisa menjalankan semuanya

Allahlah yang mengangkat derajatnya

Walau rendah kelihatan tampaknya

Namun mulia maqom derajatnya


Lamun prasto ing pungkasane

Ora kesasar roh lan sukmane

Den gadang Allah swargo manggone

Utuh mayite ugo ulese 


Jika di akhir hayatnya

Tak tersesat ruh dan jiwanya

Dihantar Allah syurga tempatnya

Utuh mayatnya dan kafannya